Minggu, 21 November 2010

Surat dariku, untukku 10 tahun lagi

Hei kamu…iya kamu, wajahmu sangat berbinar akhir-akhir ini. Yang kudengar kamu sekarang sudah menjadi orang sukses, ya seperti yang kamu ceritakan kepadaku 10 tahun yang lalu.
Dulu kamu bercerita banyak tentang orang-orang yang tidak yakin terhadap mimpimu. Seorang Planner beralih menjadi seorang penjual, tidak tanggung-tanggung penjual barang-barang yang kamu buat dengan tanganmu sendiri, di sebuah kota kecil pula, siapa yang mau beli?. Mendingan kamu bergabung dengan kelompok orang yang berbaju seragam coklat itu, posisimu pantas disana, ya untuk ilmu yang kamu pelajari di bangku kuliahan, posisi yang strategis bakal dengan mudah kamu dapatkan, karena jarang sekali orang dengan lulusan ilmu seperti dirimu. Apalagi dengan nilai kelulusanmu yang cukup bagus, eh malah sudah bagus sekali itu, menurutku.
Tetapi kamu memberikan penjelasan yang cukup masuk akal untuk otakku yang masih labil ini. Kamu berkata, “membangun sebuah kota tidak hanya dengan cara harus menjadi pria berseragam coklat itu, kita bisa membantu pembangunan kota dengan cara menjadi Super Citizen, orang yang membantu pemerintah dengan cara mereka sendiri, melakukan kerjaan yang kita sukai, melakukan yang terbaik yang kita bisa, karena itu juga akan membantu masyarakat lain dan juga kerja pemerintah. Sebagai contoh aku bisa dan senang di bidang hospitality design, ya aku bekerja di bidang ini. Jadi dengan begini hasil kerjaku bisa membantu masyarakat kurang mampu dengan zakat, memberikan pekerjaan untuk beberapa orang, membantu pemerintah dengan membayar pajaknya, ya walaupun masih belum pasti duitnya lari kemana nanti, hahaha, “ sangat gayus tertawamu, saat itu aku membayangkan dirimu sedang memakai wig Polem (Poni Lempar).
Aku tahu sebenarnya dirimu sangat ingin sekali membantu pemerintahan, tetapi yang kulihat dirimu masih belum yakin dengan pemerintahan saat itu. Sempat terlihat olehku dirimu dilibatkan dalam beberapa kegiatan sosial, mengajar, menyambut tamu yang notabene-nya tamu pemerintah, tidak ada materi disana, akan tetapi dirimu terlihat sangat menikmatinya. “ini lebih nyata hasilnya, ada kepuasan batin disini,” katamu dengan wajah berbinar.
10 tahun berlalu, sekarang ternyata kamu bisa membuktikan keyakinan hati dan mimpimu. Seperti kalimat kau yang sempat retweet 10 tahun lalu, ” RT : @MarioTeguhquote : Tuhan menolong orang yang menolong dirinya sendiri.

Apapun itu, sukses selalu untukmu.
Salam SuperCitizen

Ttd
Aku yang selalu mengingat kamu

Minggu, 14 November 2010

Catatan Kecil Tentang dia 2

oke, lanjut lagi ya....

Semangatku kembali meningkat, harapanku menemukan Adisty makin besar dengan bantuan si mbah Google. Kucoba mengetik nama lengkapnya, Adisty N. Anggita, kutekan tombol enter, memohon petunjuk si mbah, kutunggu sebentar, tetapi tak ada satupun jawaban dari si mbah mengenai Adisty, yang muncul Adisty seorang penyanyi, bukan, bukan, itu bukan Adisty yang aku kenal, kucoba sekali lagi, dan jawaban si mbah tetap sama. Mbah Google-pun sepertinya menyerah.
Waktupun berlalu, sekarang aku sedang mencoba mencarinya lagi, tetapi bukan dengan bantuan si mbah, kali ini aku memakai bantuan Pak Cek-ku, ya Pak Cek Buk namanya, mungkin di luar terkenal dengan sebutan Om facebook. Yang kudengar Pak Cek Buk ini hebat, beliau bisa membantu kita menemukan teman-teman kita yang hilang, tak jarang juga menemukan saudara kita yang hilang. Caranya mudah, tinggal kita mengisi kolom paling atas bertuliskan status, tunggu beberapa saat bakal ada jawaban dari agen-agen Pak Cek di bawah status kita, benar-benar luar biasa Pak Cek Buk itu, punya agen yang banyak.
Kucoba memasukkan nama Adisty N. Anggita, di daftar cari Pak Cek Buk, ada beberapa foto yang muncul disana, dan tak satupun yang aku kenal. Sepertinya Adisty yang kucari, tidak kenal dengan Pak Cek Buk.
Aku tak mau menyerah, ya paling tidak sudah kutinggalkan sebuah status di Pak Cek-ku, “Mencari Adisty,” mudah-mudahan saja ada info terbaru dari agen-agen Pak Cek-ku, atau apa mungkin lebih baik begini, biarlah dia tetap menjadi catatan kecil yang sempurna di dalam hatiku.
Tak terasa sudah 3 jam diriku berada di Keude Kupi ini, pantas saja kopi yang kuminum terasa berkurang rasa hangatnya dan pelayan memperhatikanku dengan wajah seakan-akan berkata, “alah abang ni, paling pengen ngenet gratis aja.” Oke, sudah saatnya diriku beranjak pergi ke Keude Kupi yang lain dan cerita lainnya.

Catatan Kecil Tentang Dia

wah, udah lama juga ni ga update blog, maaaf yaa...sebenernya pengen banget berbagi dengan kalian, aku tahu kalian nunggu-nunggu kabar dariku. #eeaa #mintaditamparbolakbalik
oke, kesibukkanku di Piyoh, akhir-akhir ini membuat waktuku tersita disana, lagi peluasan toko dan penambahan jumlah produksi produk. buat yang belum Piyoh, Piyoh ya....:)
oh ya, kali ini aku lagi nyiapin cerpen buat ikut nulis di nulisbuku yang lagi menggalang dana untuk sodara-sodara kita yang tertimpa musibah di Wasior, Merapi, dan Mentawai.. mudah-mudahan berguna ya.

cekidot.....

Catatan Kecil Tentang Dia

Saat aku menulis cerpen ini, aku sedang berada di Keude Kupi sebutan Warung Kopi di Banda Aceh, Aceh. Keude Kupi ini tidak terlalu luas namun terasa hangat dan sangat menyenangkan, bukan dikarenakan pengunjungnya yang padat, bukan juga dikarenakan tempat dudukku yang berdekatan dengan si abang, pembuat Kopi Aceh lengkap dengan saringan panjang untuk menarik kopi dari satu gelas besar dipindahkan ke gelas lainnya hingga dirasakan racikkannya pas, tapi bukan hal itu yang membuat Keude Kupi ini menyenangkan, lebih dikarenakan fasilitas WIFI/internet gratis yang ditawarkan Keude Kupi ini. Aku betul-betul menikmati “Oase”, di tengah hiruk-pikuk penikmat kopi yang silih berganti pergi.
Sambil menyeruput Kupi Pancong, sebutan untuk secangkir kopi yang kecil dengan bentuk gelas yang khas Kupi Pancong, pikiranku melayang sebentar namun kembali lagi menginjak tanah. Ada sebuah sensasi unik ketika menyeruputnya, walaupun mulai terasa dingin, entah apa yang diberikan mereka di dalam secangkir kopi ini, tak heran bila setiap hari-nya orang-orang Aceh mendatangi Keude Kupi ini, bahkan wisatawan yang jauh pun berdatangan hanya sekedar memenuhi rasa penasaran ataupun mengobati rasa rindu.
Aku menyeruput lagi Kupi Pancong-ku, pikiranku kembali melayang, namun kali ini tidak kembali. Pikiranku menerawang ke beberapa waktu silam ketika aku berusia 13 tahun, saat itu aku berkenalan dengan seorang gadis. Disinilah cerita bermula.
Gadis 13 tahun itu favorit semua orang, termasuk aku, sekalipun aku tidak pernah satu sekolah dengannya. Adisty, nama yang unik menurutku. Tidak ada yang salah dengan dia, hanya saja penampilan dan kepribadiannya berhasil menarik perhatian semua insan yang mengenalnya, terutama kaum lelaki. Wajahnya yang cantik, tubuhnya yang ramping, kulitnya yang sawo matang, suaranya yang renyah, serta kepribadian yang hangat, dan satu lagi, dia pintar, semua syarat gadis idaman ada di dia, Adisty.
Sampai suatu ketika kami semua kehilangannya, keberadaannya tidak diketahui siapapun. Dia hilang, lenyap seperti menghilang ditelan bumi. Sempat menanyakan kepada teman-teman semasa SMP-ku tapi tak ada yang mengetahui keberadaanya.
Sewaktu SMA pun, aku sudah berusaha untuk mencarinya dengan bertanya ke semua teman yang ada, mungkin saja dari semua teman yang notabene-nya berasal dari seluruh kabupaten/kota di Aceh ini ada yang kenal atau setidaknya pernah bertemu dengan Adisty, tetapi tak satupun yang mengenalnya, tapi satu kesimpulan yang bisa kuambil saat itu, dia tidak berada di Aceh lagi. Pencarianpun berhenti saat itu, hari-hariku dipenuhi dengan kegiatan belajar yang penuh setiap harinya. Masa-masa SMA yang benar-benar optimal.
Saat diriku beranjak dewasa, pencarian pun dimulai, tenyata pengorbanan masa-masa SMA-ku tak sia-sia, aku berhasil menginjakkan kaki di pulau seberang, ya Pulau Jawa. Selama 5 tahun disana, aku tetap berusaha mencari keberadaanya, tetapi tetap saja hasilnya nihil. Sempat terbersik dalam hati untuk menghentikan pencarianku, sampai suatu ketika aku menemukan cara yang belum pernah kucoba, bertanya dengan orang pintar, ya, “Mbah Google”. Kata orang si mbah bisa saja mencari apapun, siapapun, kapanpun hanya dengan mengetik namanya di dalam kolom yang tersedia di lembar administrasi si mbah dan dalam waktu hitungan detik si mbah memberi jawaban.
Mendengar gossip hebatnya Si Mbah Google tak membuat diriku langsung percaya begitu saja, bisa saja itu cuma Hoax. Perlu dibuktikan. Aku mencoba memasukkan namaku di kolom itu, tak lama kemudian muncul berbagai informasi yang tak pernah kukira selama ini dari si mbah. Namaku ada banyak, padahal bapakku pernah bercerita kalau namaku itu Cuma satu-satunya yang ada di Indonesia, aku cuma bengong. Ya setidaknya aku tidak sendirian ditipu oleh orang tua.

(bersambung....)